BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam kehidupan ini tingkah laku
atau behaviorisme adalah hal- hal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memiliki tingkah laku yang
berbeda-beda. Oleh sebab itu penting bagi kami untuk mempelajari dan membahas
tingakah laku atau behaviorisme lebih dalam, karena behaviorisme dapat
menjelaskan segala kelakuan manusia secara saksama dan menyediakan program
pendidikan yang efektif.
Alasan kita mempelajari tentang Psikologi
Behaviorisme adalah agar kita mengetahui mengenai makna dari behaviorisme itu
sendiri. Kita juga akan menjadi tahu hal-hal yang mungkin belum kita
ketahui dalam Psikolgi Behaviorisme tersebut, karena dengan kita mempelajarinya
bertambahlah wawasan kita mengenai ilmu Psikologi Behaviorisme itu.Selain itu
kita dapat mengetahui pendapat-pendapat mengenai Psikologi Behaviorisme ini
dari para tokoh-tokoh-nya.
Dalam Psikologi
behaviorisme ini kita akan mengetahui apa saja yang terdapat di dalamnya. Ruang
lingkup yang akan dibahas pada makalah ini adalah kita dapat
mengetahui pendapat-pendapat mengenai aliran Behaviorisme ini dari para
tokoh-tokoh-nya.
Dengan uraian yang kami buat, ternyata konsep behaviorisme besar
pengaruhnya terhadap masalah belajar, karena belajar ditafsirkan sebagai
latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.
Dengan alasan
di atas, tulisan ini pun ditulis, penulis ingin kita semua menambah pengetahuan
tentang teori behaviorisme ini.
B.
Rumusan
Masalah
Dari pemaparan
di atas dapat penulis paparkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana
sejarah singkat aliran behaviorisme ini?
2.
Apa
yang dimaksud dengan aliran behaviorisme?
3.
Apa
saja teori yang termasuk ke dalam pandangan aliran behaviorisme?
4.
Apa
saja kelebihan dan kekurangan aliran behaviorisme?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari rumusan masalah yang telah dibuat adalah :
1.
Mengetahui
sejarah singkat aliran behaviorisme.
2.
Mengetahui
pengertian dari aliran behaviorisme.
3.
Mengetahui
teori-teori dalam aliran behaviorisme.
4.
Mengetahui
kelebihan dan kekurangan teori behaviorisme.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Singkat Psikologi Behaviorisme
Awal
mula adanya Psikologi Behaviorisme yaitu pada abad ke-20 di Amerika. Dan
gerakan ini secara formal diawali oleh seorang psikolog Amerika bernama John
Broadus Watson (1878-1958) dengan makalahnya berjudul “Psychology as the
Behaviorist Views It” dan dipublikasikan pada tahun 1913.Watson mengusulkan
peralihan dari pemikiran radikal yang membahas perkembangan psikologi
bedasarkan kesadaran dan proses mental. Watson mendukung perilaku tampak yang
dapat diamati sebagai satu-satunya subjek pembahasan yang masuk akal bagi ilmu
pengetahuan psikologi. Sistem Watson yang memfokuskan pada kemampuan adaptasi
perilaku terhadap stimuli lingkungan, menawarkan ilmu psikologi yang positif
dan objektif dan pada tahun 1930 behaviorisme menjadi sistem dominan dalam
psikologi Amerika
Psikologi behaviorismesebagai disiplin empiris yang mempelajari
perilaku sebagai adaptasi terhadap stimuli lingkungan.Inti utama behaviorisme
adalah bahwa organisme mempelajari adaptasi perilaku dan pembelajaran tersebut
dikendalikan oleh prinsip-prinsip asosiasi. Pendekatan empiris berdasarkan
pengkajian asosiasi dalam psikologi behavioristik yang secara umum mengikuti
pendapat para filsuf inggris dan juga konsep locke tentang kepasifan mental
yang bermakna bahwa isi pikiran bergantung pada lingkungan.
B.
Pengertian Aliran Behaviorisme
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur,
diamati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan
terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif
terhadap perilaku kondisi yang diinginkan (Arya, 2010). Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Teori kaum behavoris
lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah
hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh
lingkungan. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek,
rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana
perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar
yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai
makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.
Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini,
timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah
mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan
peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan
pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan
dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Pada teori belajar ini
sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan
oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi
terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
C.
Teori-teori Behaviorisme
1.
Ivan Petrovich Pavlov
Ivan Petrovich Pavlo
atau lebih dikenal dengan nama singkat Pavlov, adalah seorang lulusan sekolah
kependetaan dan melanjutkan belajar ilmu kedokteran di Militery Medical
Acadeny, St. Petersburg. Pada tahun 1879, ia mendapatkan gelar ahli ilmu
pengetahuan alam.
Ivan Pavlov melakukan
eksperimen terhadap anjing, Pavlov melihat selama penelitian ada perubahan
dalam waktu dan rata-rata keluarnya air liur pada anjing (salivation).
Pavlov mengamati, jika daging diletakkan dekat mulut anjing yang lapar, anjing
akan mengeluarkan air liur. Hal ini terjadi karena daging telah menyebabkan rangsangan
pada anjing, sehingga secara otomatis ia mengeluarkan air liur. Walau pun tanpa
latihan atau dikondisikan sebelumnya, anjing pasti akan mengeluarkan air liur
jika dihadapkan pada daging. Dalm percobaan ini, daging disebut dengan stimulus
yang tidak dikondisikan (unconditionied stimulus). Dan karena salvia
itu terjadi secara otomatis pada saat daging diletakkan di dekat anjing tanpa
latihan atau pengkondisian, maka keluarnya salvia pada anjing tersebut
dinamakan sebagai respon yang tidak dikondisikan (unresponse conditioning).
Kalau daging dapat
menimbulkan salvia pada anjing tanpa latihan atau pengalaman sebelumnya, maka
stimulus lain, seperti bel, tidak dapat menghasilkan selvia. Karena stimulus
tersebut tidak menghasilkan respon, maka stimulus (bel) tersebut disebut dengan
stimulus netral (neutral stimulus). Menurut eksperimen Palvo, jika
stimulus netral (bel) dipasangkan dengan daging dan dilakukan secara berulang,
maka stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang dikondisikan
(conditioning stimulus) dan memiliki kekuatan yang sama untuk mengarahkan
respon anjing seperti ketika ia melihat daging. Oleh karena itu, bunyi bel
sendiri akan dapat menyebabkan anjing akan mengeluarkan selvia. Proses ini
dinamakan classical conditioning.
Bila ditelusuri, Pavlov
yang pada saat ini meneliti anjingnya sendiri, melihat bahwa bubuk daging
membuat seekor anjing mengeluarkan air liur. Maka yang dilakukan pavlvo adalah
sebelum memberikan bubuk daging itu ada membunyikan bel terlebih dahulu.
Setelah dilakukan beberapa kali pengulangan, maka anjing itu akan mengeluarkan
air liurnya setelah mendengar bel berbunyi, meski tidak diberikan daging lagi.
Dari percobaan yang
dilakukan oleh Pavlov, dapat disimpulkan bahwa:
a.
Anjing belajar dari
kebiasaan.
b.
Dengan pengulangan bunyi bel sehingga
mengeluarkan air liur.
c.
Bunyi bel merupakan
stimulus yang akhirnya akan menghasilkan respon bersyarat.
d.
Bunyi bel yang pada
mulanya netral tetapi setelah disertai mediasi berupa bubuk daging,
lama-kelamaan berubah menjadi daya yang mampu membangkitkan respon.
Berdasarkan hasil
eksperimen itu Pavlov menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya juga dapat
diterapkan pada manusia untuk belajar. Impilkasi hasil eksperimen tersebut pada
belajar manusia adalah:
a.
Belajar adalah
membentuk asosiasi antara stimulus respon secara selektif.
b.
Proses belajar akan
berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.
c.
Prinsip belajar pada
dasarnya merupakan untaian stimulus-respon.
d.
Menyangkal adanya kemampuan
bawaan.
2.
Burrhus Frederic Skinner
Skinner dilahirkan pada
20 Mei 1904 di Susquehanna Pennylvania, Amerika Serikat. Masa kanak-kanaknya
dilalui dengan kehidupan yang penuh dengan kehangatan namun, cukup ketat dan
disiplin.meraih sarjana muda di Hamilton Colladge, New York, dalam bidang
sastra Inggris. Pada tahun 1928, Skinner mulai memasuki kuliah psikologi di
Universitas Harvard dengan mengkhususkan diri pada bidang tingkah laku hewan
dan meraih doktor pada tahun 1931.
Dari tahun 1931
hingga1936, Skinner bekerja di Harvard. Penelitian yang dilakukannya difokuskan
pada penelitian menegenai sistem syaraf hewan. Pada tahun 1936 sampai 1945,
Skinner meneliti karirnya sebagai tenaga pengajar pada universitas
Mingoesta. Dalam karirnya Skinner menunjukkan produktivitasnya yang tinggi
sehingga ia dikukuhkan sebagai pemimpin Brhaviorisme yang terkemuka di Amerika
Serikat.
Konsep-konsep yang
dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain
yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana dan dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara
komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang
terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan
perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh
sebelumnya.
Oleh sebab itu, untuk
memahami tingkah laku seseorang secara benar perlu terlebih dahulu memahami
hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respons yang
mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai
akibat dari respons tersebut.
Skinner juga mengemukakan
bahwa, dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk
menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang dipergunakan perlu penjelasan lagi,
demikian seterusnya. Dari semua pendukung teori behavioristik, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya. Program-program pembelajaran
seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada
konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement),
merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang
dikemukakan oleh Skinner.
a.
Penguatan (Reinforcement)
Menurut
Skinner, untuk memperkuat perilaku atau menegaskan perilaku diperlukan suatu
penguatan (reinforcement). Ada juga jenis penguatan, yaitu penguatan
positif dan penguatan negative:
1)
Penguatan positif (positive reninforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan
meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung penghargaan. Jadi,
perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh stimulus
menyenangkan. Contoh, peserta didik yang selalu rajin belajar sehingga mendapat
rangking satu akan diberi hadiah sepeda oleh orang tuanya. Perilaku yang ingin
diulang atau ditingkatkan adalah rajin belajar sehingga menjadi rangking satu
dan penguatan positif/stimulus menyenangkan adalah pemberian sepeda.
2) Penguatan
negatif (negative
reinforcement) didasari
prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan meningkat karena diikuti dengan
suatu stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, perilaku
yang diharapkan akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang
tidak menyenangkan. Contoh, peserta didik sering bertanya dan guru menghilangkan/tidak
mengkritik terhadap pertanyaan yang tidak berkenan dihati guru sehingga peserta
didik akan sering bertanya. Jadi, perilaku yang ingin diulangi atau ditingkatkan
adalah sering bertanya dan stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin
dihilangkan adalah kritikan guru sehingga peserta didik tidak malu dan akan
sering bertanya karena guru tidak mengkritik pertanyaan yang tidak
berbobot/melenceng.
b.
Hukuman
Hukuman (punishmen)
yaitu suatu konsekuensi yang menurunkan peluang terjadinya suatu perilaku.
Jadi, perilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena
diberikan suatu stimulus yang tidak menyenangkan. Contoh, peserta didik yang
berperilaku mencontek akan diberikan sanksi, yaitu jawabannya tidak diperiksa
dan nilainya 0 (stimulus yang tidak menyenangkan/hukuman). Perilaku yang ingin
dihilangkan adalah perilaku mencontek dan jawaban tidak diperiksa serta nilai 0
(stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman).
Perbedaan
antara penguatan negatif dan hukuman terletak pada perilaku yang ditimbulkan.
Pada penguatan negatif, menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (kritik)
untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan (sering bertanya). Pada hukuman,
pemberian stimulus yang tidak menyenangkan nilai 0 untuk menghilangkan perilaku
yang tidak diharapkan (perilaku mencontek).
3.
Edward Lee Thorndike
Edward Lee Thorndike adalah seorang pendidik dan
sekaligus psikolog berkebangsaan Amerika. Edward awalnya melakukan penelitian
tentang prilaku binatang sebelum tertarik pada psikologi manusia. dan
pertama kali mengadakan eksperimen hubungan stimulus dan respon dengan hewan
kucing melalui prosedur yang sistematis. Ekseperimennya yaitu:
a. Kucing yang lapar dimasukkan ke dalam kotak kerangkeng (puzzle box) yang
dilengkapi pembuka bila disentuh.
b. Di luar diletakkan daging. Kucing dalam kerangkang bergerak kesana
kemari mencari jalan keluar, tetapi gagal. Kucing terus melakukan usaha dan
gagal, keadaan ini berlangsung terus-menerus.
c. Tak lama kemudian kucing tanpa sengaja menekan tombol sehingga tanpa
sengaja pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan daging di
depannya.
Percobaan Thorndike
tersebut diulang-ulang dan pola gerakan kucing sama saja namun makin lama
kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya makin sedikit dan efisien. Pada
kucing tadi terlihat ada kemajuan-kemajuan tingkah lakunya. Dan akhirnya kucing
dimasukkan dalam box terus dpat menyentuh tombol pembuka (sekali usaha, sekali
terbuka), hingga pintu terbuka.
Thorndike menyatakan
bahwa prilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di lingkungan
sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah
sebuah prilaku terjadi akan mempengaruhi prilaku selanjutnya. Dari eksperimen
ini Thorndike telah mengembangkan hukum Law Effect. Ini berarti jika
sebuah tindakan diikuti oleh sebuah perubahan yang memuskan dalam lingkungan,
maka kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat.
Sebaliknya jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang tidak memuaskan,
maka tindakan itu menurun atau tidak dilakukan sama sekali. Dengan kata lain,
konsekuen-konsekuen dari prilaku sesorang akan memainkan peran penting bagi
terjadinya prilaku-prilaku yang akan datang.
Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and
error learning or selecting and connecting learning” dan berlangsung
menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh
Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori
asosiasi. Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai
berikut:
a. Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme
memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut
akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering
tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin
kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan
perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan,
tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau
dihentikan. Sehingga prinsip dari hokum ini menunjukkan bahwa prinsip utama
dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan
semakin dikuasai.
c. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung
diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya
tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi
sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan
cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu
perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak
akan diulangi.
4.
Jhon Broadus Waston
Waston adalah seorang
tokoh aliran behaviorisme yang datang setelah Thorndike. Menurutnya,
belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan
respo yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel)
dan dapat diukur. Dengan kata lain, walupun ia mengakui adanya
perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia
menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia
tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting.
Namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau
belum karena tidak dapat diamati.
Waston adalah seorang behavioris murni, karena
kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika
atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu
sejauh dapat diamati dan diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah
maka akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah
seseorang melakukan tindakan belajar. Para tokoh aliran behaviorisme cenderung
untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak dapat
diamati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar,
walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.
D. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Behaviorisme
1. Kelebihan
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke teori
behaviourisme terdapat beberapa kelebihan di antaranya :
a) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar.
b) Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang
menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti:
kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya.
c) Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar
mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang
bersangkutan.
d) Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi
permen atau pujian.
2. kekurangan
a) Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal
belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak
terlihat kecuali melalu gejalanya.
b) Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan
seperti mesin atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang
bersifat kognitif, sehingga, dengan kemampuan ini, manusia mampu menolak
kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
c) Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit
diterima, mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antara hewan dan manusia.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Psikologi Behaviorisme mulai ada pada abad
ke-20 di Amerika. Dan gerakan ini secara formal diawali oleh seorang psikolog Amerika
bernama John Broadus Watson (1878-1958)
2.
Behaviorisme
adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan
oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan.
3.
Teori-teori
didalam aliran behaviorisme antara lain teori Ivan Petrovich Pavlov, Burrhus
Frederic Skinner, Edward Lee Thorndike dan Jhon Broadus Waston.
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono Wirawan dan sarlito, Pengantar Psikologi Umum,
(Jakarta: Rajawali Press, 2014), Cet, Ke-6
Sumanto, Psikologi Umum, (Yogyakarta: CAPS (Center of
Academic Publishing Service), 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar